Read Time:9 Minute, 6 Second
  • Addison Nugent
  • BBC Culture

20 menit yang lalu

emily in paris, netflix, paris, film

Serial Emily in Paris dari Netflix adalah karya terbaru yang menggambarkan Paris sebagai taman bermain yang indah untuk orang Amerika. Sebenarnya imajinasi itu tidak salah, tapi sudah ketinggalan 100 tahun.

“Yang terbaik dari Amerika tertarik oleh Paris. Orang Amerika di Paris adalah orang Amerika terbaik,” tulis F. Scott Fitzgerald pada suatu waktu.

Setelah 10 tahun hidup sebagai imigran AS di ibu kota Prancis ini, saya masih tidak yakin apa yang dia maksud, tapi saya yakin dia tidak sedang membayangkan Emily Cooper, tokoh utama wanita dari acara baru Netflix, Emily in Paris.

Berlatar belakang satu abad setelah Fitzgerald tinggal di tempat berjuluk kota cahaya ini, serial baru dari pencipta serial Sex and the City, Darren Star ini, adalah karya terbaru yang berusaha untuk mengambarkan mimpi ‘Amerika di Paris’.

Tidak peduli sebanyak apa pun upaya para penulis skenario, mereka tetap gagal menceritakannya dengan sempurna.

Serial ini berkisah tentang konsultan pemasaran muda AS (diperankan oleh Lily Collins yang mirip Audrey Hepburn), yang dikirim untuk tinggal di Paris setelah perusahaannya mengakuisisi sebuah agensi Prancis.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah parade dari klise-klise khas Hollywood tentang kehidupan di ibu kota Prancis yang biasa dibayangkan.

Termasuk, kolega perokok berat yang kasar dan romansa di setiap kesempatan.

Menonton 10 episode serial itu, saya jadi bertanya: bagaimana Hollywood masih begitu keliru menggambarkan Paris?

Saat tumbuh dewasa, saya secara obsesif mengonsumsi setiap film Hollywood yang berlatar di Paris.

Saya bernyanyi bersama Fred Astaire saat dia menari di Champs-Élysées mengikuti irama Bonjour Paris! dalam Funny Face (1957).

Saya menangis bersama Nicole Kidman di Moulin Rouge (2001). Saya menatap heran pada kehidupan ajaib Audrey Tautou di Amélie (2001), yang meskipun adalah film Perancis, tapi menggambarkan kemanisan Paris dengan cara Hollywood.

Itu mungkin adalah penyebab kenapa film itu jadi hit di seluruh dunia. Ketika saya akhirnya tiba di Paris pada usia 21, berseri-seri dalam perjalanan taksi pertama dari bandara, dalam banyak hal saya sangat mirip dengan Emily Cooper yang, jelas, diasupi mitos Hollywood yang sama.

Dalam episode pertama, kita melihat bagaimana Emily, seperti kebanyakan dari orang Amerika sebelum dia, langsung kecewa ketika dihadapkan pada fakta bahwa Paris tidak seindah yang terlihat di film-film.

Petualangan tidak menunggu di setiap sudut. Orang Paris umumnya pendiam dan sangat sulit untuk berteman. Menjadi orang Amerika di Paris bisa sangat kesepian.

Namun, alih-alih belajar beradaptasi dengan kenyataan yang agak mengecewakan dari ibu kota Prancis itu, Emily mulai secara obsesif memalsukan kenyataan agar sesuai dengan harapannya melalui akun Instagram-nya.

Nama acara ini sebenarnya mengacu pada akun Instagram Emily, yang memainkan peran sentral yang menyedihkan dalam serial tersebut.

Alih-alih memberi 21,7 ribu follower-nya (statistik yang muncul di layar beberapa kali) sekilas tentang Paris yang sebenarnya, dia justru memfilter pengalamannya untuk mencocokkan realita dengan asumsi penggemarnya di Amerika.

Premis ini sebenarnya bisa menjadi kesempatan bagi serial ini untuk menyindir Paris versi Amerika yang dipaksa dicantik-cantikkan, tetapi sayangnya mereka hanya menampilkannya sekilas.

Seperti tokoh utamanya, Star menampilkan sebuah kota fantasi total. Emily menjadi seorang influencer, menghadiri pesta-pesta mewah yang dipenuhi sampanye, dan bertemu dengan pria-pria Paris yang keren di setiap kesempatan.

“Biasanya, sutradara Amerika melukiskan penggambaran mereka tentang Paris dan budayanya melalui kacamata nostalgia atau romatisme […]” kata Dr Alice Craven, Profesor Studi Film di The American University of Paris.

“Penonton, terutama yang dari Amerika, ingin menikmati keindahan Kota Cahaya dan karenanya menerima begitu saja pengaburan-pengaburan yang diberikan oleh sutradara ini ke kondisi kota sebenarnya.”

Berkali-kali, penggambaran Paris di layar selalu menggunakan Paris sebagai latar belakang meriah untuk sebuah cerita fantasi romantis.

Dari ciuman di atas kendaraan Meg Ryan di film French Kiss (1995) hingga klimaks Sex and the City, di mana Carrie Bradshaw menemukan dongengnya berakhir di sana bersama dengan Mr Big.

Tapi dari mana asal mula cara pandang kita terhadap ibu kota Prancis yang dipenuhi romantisme positif ini muncul?

Bagaimana kebohongan berkembang

Kebohongan ini bisa dibilang berasal dari periode perang internal ketika para penulis muda, seniman dan filsuf dari apa yang disebut ‘Generasi yang Hilang’ berbondong-bondong datang ke Paris.

Pada 1920-an artis besar bohemian seperti Stein, Ernest Hemingway, Salvador Dalí, F Scott dan Zelda Fitzgerald, Man Ray, TS Eliot dan Jean Rhys membentuk grup kreatif, yang berpesta bersama di klub jazz, bertukar ide, dan secara umum menjalani impian ekspatriat sekarang ketika dihubungkan dengan Paris.

Banyak kesalahpahaman tentang kota yang berputar-putar dalam imajinasi AS sebenarnya bukan kesalahpahaman sama sekali.

Pemahaman itu cuma sudah ketinggalan zaman 100 tahun.

Ernest Hemingway

Keterangan gambar,

Penulis Amerika, Ernest Hemingway, di depan rumahnya di Paris, 1924.

Ketika orang Amerika turun dari pesawat di Charles de Gaulle dengan memegang salinan A Moveable Feast karya Ernest Hemingway, memoar penting sang penulis tentang pengalamannya menulis dan berkeliaran di ibu kota Prancis pada 1920-an, mereka mungkin akan dituntun untuk mencoret-coret catatan di Café de Flore, terlibat dalam percakapan intelektual yang menegangkan di Place de l’Opéra, dan menyesap anggur dengan sastrawan kota di Les Deux Magots.

Namun begitu mereka menyadari bahwa Café de Flore sekarang hanya menjadi tempat nongkrong bagi turis Amerika, Place de l’Opéra adalah pemandangan neraka yang padat, dan sebotol anggur di Les Deux Magots berharga minimal € 38 (Rp650 ribu)), impian mereka tentang Paris jadi hancur.

“‘Generasi yang Hilang’ dari Hemingway mungkin telah datang dan pergi, tetapi masih ada kisah nyata abad ke-21 yang layak untuk diceritakan,” kata Vanessa Grall, pendiri situs gaya hidup Messy Nessy Chic dan penulis Don’t Be a Tourist in Paris.

“Ada celah yang terbuka lebar untuk narasi yang mampu memberi Paris gambaran yang benar-benar layak, tetapi sayangnya, kita terus dipenuhi orang-orang yang menjadikan kota ini stereotip latar belakang Instagram untuk fashionista yang mencari jati diri.”

Tampilan acak-acakan Paris ini adalah tema sentral dalam film Woody Allen tahun 2011, Midnight in Paris di mana protagonis Gil (diperankan oleh Owen Wilson), seorang penulis naskah Hollywood yang bertekad untuk menjadi novelis yang serius, terlempar kembali ke Era Jazz melalui taksi ajaib dan mengalami kota seperti pada tahun 1920-an.

Place de l'Opéra

Keterangan gambar,

Panorama Place de l’Opéra dan sekitarnya di Paris, 1930.

Dalam sebagian besar plot film, Gil tergoda untuk tinggal di masa lalu secara permanen dengan teman-teman sastrawan barunya (termasuk Stein, Fitzgerald, Hemingway, dan banyak lagi) karena tampaknya, dia sepenuhnya melupakan adanya Perang Dunia Kedua atau bersedia menanggung kengerian dari Pendudukan Nazi hanya agar bisa mengikuti Ernest Hemingway.

Pada akhirnya, Gil memutuskan untuk pindah ke Paris tapi di masa sekarang. Sesuatu yang dia, sebagai penulis kaya, pasti mampu melakukannya.

Tetapi rata-rata penulis lain saat ini tidak bisa, setidaknya tidak dengan mudah.

Perlu diketahui, ada alasan mengapa Hemingway mampu menyewa apartemen dan ruang kantor sambil menyeruput botol anggur dan tiram yang tak ada habisnya di Saint Germain: setelah Perang Dunia Pertama, franc mengalami devaluasi besar-besaran, turun menjadi 25 franc per dolar.

Jadi, orang Amerika bisa hidup dengan gaji kecil dan memperlakukan Paris seperti taman bermain yang indah. Hal ini, pembaca yang budiman, tidak lagi terjadi saat ini.

Paris sekarang menjadi kota yang sangat mahal, mendapat predikat sebagai kota termahal di dunia pada tahun 2019 (bersama dengan Hong Kong dan Singapura).

Biaya sewa tempat tinggal sangat mahal, dan Emily in Paris hampir realistis dalam menggambarkan jenis perumahan yang bisa didapat tokoh utamanya.

Alih-alih menempatkannya di sebuah flat besar yang tak bisa dijelaskan, seorang agen perumahan mengumumkan bahwa dia akan tinggal di ‘tempat tinggal pelayan’: lebih dikenal sebagai chambres des bonnes, flat seukuran kotak korek api yang ada di lantai atas gedung apartemen tempat staf rumah tangga keluarga kaya tinggal.

Saya telah tinggal di banyak ‘lemari’ dengan harga yang terlalu tinggi ini. Dindingnya setipis kertas, harus naik tangga ‘pelayan’ yang terpisah untuk naik, dan yang terburuk, semua orang di lantai itu memakai toilet umum yang sama.

Tapi, flat lucu dengan kamar tidur dan ruang tamu terpisah tempat tinggal Emily itu bukan, saya ulangi, bukan chambre de bonne yang otentik.

Faktanya, ketika kamera mengarah ke Emily yang berseri-seri di jendelanya, Anda justru dapat melihat chambres des bonnes yang asli yang terletak satu lantai di atasnya.

Musikal klasik Gene Kelly/Leslie Caron, An American in Paris (1951) punya penggambaran yang tepat. Dalam adegan pertama film yang ceria, kita melihat kamera menyorot ke gedung klasik Left Bank lalu berhenti di kamar berukuran kecil milik Kelly.

Kita menyaksikan Jerry dengan mengantuk melakukan proses mengubah chambre de bonne-nya dari kamar tidur menjadi ruang tamu.

Itulah ritual pagi yang biasa bagi semua orang yang pernah tinggal di lantai yang sama.

Patricia Field, desainer kostum terkenal Sex and the City yang sekali lagi bekerja sama dengan Starr untuk Emily in Paris, mengatakan bahwa dia terinspirasi oleh An American in Paris ketika merancang kostum tersebut.

Penggemar film akan menganggap pakaian Emily tidak ada hubungannya dengan kostum An American in Paris yang mewah; sebaliknya, penampilannya adalah turis milenial Amerika yang kaya di Paris.

Saya melintasi Pont Alexandre III (di mana Emily dan rekan-rekannya memfilmkan iklan parfum yang ada di trailer serial ini) setiap hari dalam perjalanan ke kantor dan jika saya melewati Emily dengan setelan kotak-kotak hitam-putih dan baret merah agresif, saya akan otomatis menganggap tas Chanel berlapisnya berisi kartu kredit milik ayahnya.

Dalam satu adegan, Emily bahkan mengenakan kemeja berkancing dengan Menara Eiffel di atasnya yang dijual seharga € 333 (Rp5,7 juta): ini adalah versi gadis kaya kemeja ‘Paris Je t’aime’ yang dijajakan di setiap sudut jalan.

emily in paris, netflix, paris, film

Keterangan gambar,

Baret merah dan setelah kotak-kotak yang dipakai tokoh utama Emily in Paris

Dari Sex and the City hingga Le Divorce, drama komedi Merchant Ivory tahun 2003 yang dibintangi Kate Hudson dan Naomi Watts, ada kecenderungan bagi desainer kostum untuk mendandani karakter mereka ‘sesuai tema’.

Tokoh perempuan Amerika mengenakan gaun aneh, Chanel dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan baret terkemuka saat mereka berjalan melewati daerah Left-Bank yang ikonik.

Paris, tentu saja, adalah tempat yang modis, tetapi pilihan untuk secara konsisten menjadikan pakaian sebagai fokus utama dalam penggambaran kota menunjukkan pemahaman Amerika yang sangat dangkal tentangnya, sedangkan penggambaran dua dimensi seperti isi Instagram Emily yang berharga; tidak nyata seperti panggung suara MGM di Funny Face dan An American in Paris.

Dalam film-film ini dan juga Emily in Paris, Paris hanya berfungsi sebagai latar belakang yang indah.

Tentu, serial ini menggambarkan beberapa hal kecil dengan benar: ada kotoran anjing di sepanjang jalan, fakta yang ditemukan Emily ketika dia merusak sepasang sepatu bot karya desainernya.

Air terus-menerus mati di gedung-gedung tua; dan orang Prancis sering menanggapi dengan ‘Pas possible’ ketika diminta untuk melakukan sesuatu yang mereka tidak suka.

Namun, seperti pendahulunya di tahun 2000-an, Carrie Bradshaw, Emily tidak mengizinkan Paris atau budaya lain untuk membentuknya.

Dia mencoba untuk membentuk Paris menjadi idealisasi Amerika. Gagasan bahwa entah bagaimana Paris adalah untuk orang Amerika tampaknya menjadi pesan utama Hollywood selama bertahun-tahun.

Padahal, agar orang Amerika di Paris benar-benar jadi orang Amerika terbaik, kembali ke kata Fitzgerald, itu karena mereka menyerahkan diri mereka ke kota dengan segala keindahannya, kemegahannya yang tidak sempurna.

Source