Read Time:1 Minute, 45 Second

Jakarta, CNN Indonesia —

McKinsey Indonesia memperkirakan perekonomian Indonesia akan pulih lebih cepat dari dampak pandemi covid-19 dibandingkan negara lain. Pasalnya, ekonomi Indonesia lebih banyak ditopang oleh konsumsi domestik yang menyumbang sekitar 50 persen hingga 60 persen terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB).

Managing Partner McKinsey Indonesia Philia Wibowo menuturkan struktur ekonomi itu tak lantas menjamin ekonomi Indonesia lebih baik dibandingkan negara lain usai pandemi. Ini semua bergantung pada penanganan di Indonesia sendiri.

Silver lining (kabar baiknya), kalau semua negara turunnya di tempat yang sama kita sebetulnya punya kemampuan untuk bangkit lebih cepat, kenapa? Karena ekonomi kita tidak terlalu banyak bergantung pada pariwisata, jadi ekonomi kita banyak bergantung pada konsumsi domestik,” ujarnya dalam diskusi Reformasi dan Menata Ulang Indonesia Pasca Covid-19, Rabu (21/10).



Berdasarkan survei McKinsey terhadap sejumlah stakeholder di Indonesia, sebagian besar meyakini ekonomi Indonesia bisa pulih di kuartal I 2022 mendatang. Oleh sebab itu, McKinsey menilai diperlukan kerja sama dari semua pihak untuk mendorong perekonomian pulih kembali normal.

“Jadi ini bukan sesuatu yang 3 bulan bisa balik, kita harus berpikir membantu bisnis melihat 1 tahun hingga 1,5 tahun ke depan,” ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Senior Partner McKinsey Indonesia Khoon Tee Tan mengatakan besaran stimulus ekonomi lewat program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) mencapai 9 persen dari PDB. Ia menuturkan besaran stimulus ekonomi setiap negara memang bervariasi.

“Kalau di Indonesia secara besarannya hampir 10 persen dari PDB, ada negara yang mungkin sekitar itu dan ada beberapa yang mencapai 50 persen secara keseluruhan,” katanya.

[Gambas:Video CNN]

Sejumlah negara yang mengucurkan stimulus secara besar-besaran meliputi Jerman yakni 41 persen dari PDB, Italia 47 persen dari PDB, Selandia Baru 48 persen dari PDB, dan Afrika Selatan 47 persen dari PDB.

Kendati demikian, ia menekankan besaran stimulus tidak bisa dibandingkan antara negara lantaran menyesuaikan dengan kapasitas dan struktur ekonomi negara tersebut. Di Indonesia sendiri, bantuan tersebut lebih banyak menyasar UMKM yang menopang struktur ekonomi Indonesia.

“Poin di sini tidak ada yang benar atau salah, dari sisi besaran stimulusnya. Yang penting di sini penyaluran dana untuk stimulasi ekonominya mengikuti struktur dari ekonomi masing-masing,” tuturnya.

(ulf/sfr) Source