Read Time:2 Minute, 4 Second

Jakarta (ANTARA) – DirekturJenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto mengatakan sayuran super mini (microgreen) menjadi solusi bagi pertanian perkotaan yang sedang populer di kalangan masyarakat.

“Saat ini banyak masyarakat di perkotaan yang menggeluti hobi bertanam sebagian besar bertanam sayuran hidroponik. Namun kini ada juga sayuran super mini yang minim pemeliharaan tetapi dapat dikonsumsi dalam waktu singkat,” kata Prihasto dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Inovasi sayuran super mini yang dikembangkan PT East West Seed Indonesia (Ewindo) itu menurut Prihasto bisa menjadi solusi ditengah-tengah turunnya pendapatan masyarakat akibat pandemi COVID-19.

Prihasto menyatakan pendapatan pada sektor pertanian masih bertumbuh sebesar 16 persen saat pandemi COVID-19, salah satunya disumbang dari pertanian perkotaan (urban farming) dengan memanfaatkan lahan pekarangan.

Kepala Bidang Pangan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, Perikanan DKI Jakarta, Mujiati menuturkan pihaknya menggalakkan program pertanian perkotaan dengan memanfaatkan lahan di pekarangan, saluran, bantaran sungai, dan lahan milik pengembang.

Mujiati menyebutkan pangan dan sayuran di DKI setiap harinya mencapai 1.600 ton, meskipun tetap harus bergantung pasokan dari daerah lain namun pihaknya terus menyelenggarakan pelatihan pertanian dengan memanfaatkan lahan terbatas di pekarangan.

“Peminatnya banyak tidak hanya dari warga saja, tetapi juga kalangan pekerja bahkan ASN juga minta dibuatkan jadwal pelatihan. Termasuk bertanam dengan sistem hidroponik,” ujar dia.

Mujiati menyambut baik inovasi yang dikembangkan untuk sayuran mikro ini karena bisa menjadi solusi di lahan terbatas seperti Jakarta, sehingga penghuni apartemen bisa memanfaatkan untuk di ruangannya atau di balkon.

Sementara itu, Managing Director PT Ewindo, Glenn Pardede menambahkan masyarakat bisa mendapatkan sayuran super mini secara daring dan “offline” dengan harga terjangkau sudah satu paket dengan media tanam, semprotan air, wadah, dan benihnya.

“Panennya juga singkat hanya butuh sembilan sampai empat belas hari saja, ketika tinggi tiga sampai lima sentimeter tinggal dipotong kemudian dikonsumsi,” ujar Glenn.

Menurut Glenn, sayuran yang disebut sebagai microgreen ini sedang tren di sejumlah negara seperti Jepang, Korea, dan Eropa untuk dikonsumsi bersama makanan lain atau dijus.

Glenn mengungkapkan sayuran muda memiliki kandungan nutrisi sembilan kali lipat dibandingkan sayuran dewasa sehingga bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh saat pandemi COVID-19 berdasarkan hasil riset selama enam bulan sebelum dipasarkan.

Dikatakan Glenn, sayuran super mini ini bisa menjadi solusi bagi Indonesia untuk mengejar target konsumsi sayuran sesuai standar FAO sebesar 400 gram per kapita per hari, saat ini capaian Indonesia baru mencapai 180 gram per kapita per hari.

Baca juga: Kelurahan Manggarai Selatan panen perdana sayuran hidroponik
Baca juga: Cara Jakarta memenuhi kebutuhan sayuran
Baca juga: Warga Sunter Agung panen sayuran hidroponik

Pewarta: Ganet Dirgantara
Editor: Taufik Ridwan
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Source