Read Time:3 Minute, 25 Second

Reporter: Khomarul Hidayat | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah berupaya mengantisipasi kemunculan varian atau strain virus baru Covid-19 dengan berbagai cara. Seperti mendukung semua penelitian terkait Sars Cov-2 maupun Covid-19 termasuk pengembangan vaksin dan antivirus hingga penguatan surveilans virologi.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman 10, lembaga biologi molekuler lainnya berencana melakukan lebih banyak pemetaan dan surveilans terhadap genome virus Sars Cov-2. Menggunakan metode Whole Genome Sequencing (WGS) terhadap sampel klinis dari berbagai daerah.

“Pemerintah berkomitmen melakukan penguatan surveilans virologi agar dapat memutus mata rantai penularan Covid-19. Hal ini merupakan aspek penting untuk memetakan sebaran jenis virus yang tersebar di Indonesia,” kata Wiku seperti dikutip dari website covid19.go.id.

Baca Juga: Alasan Pemprov DKI Jakarta tetap berlakukan belajar dari rumah

Hal ini bermanfaat dalam mendeteksi potensi strain virus baru yang dapat berpengaruh dalam mekanisme penanganan Covid-19 yang sedang berjalan. Wiku lanjut mengedukasi masyarakat tentang cara kerja surveilans virologi.

Yaitu, bahwa genome atau materi genetika dari suatu organisme seperti virus, bakteri atau seorang manusia yang terdiri dari DNA. Untuk DNA ini, antar sesama organisme misalnya pada sesama virus Sars Cov-2, struktur DNA-nya bisa berubah atau berbeda. Sehingga dapat mempengaruhi kemampuan menginfeksinya.

Para ilmuwan di laboratorium menggunakan prosedur whole genome sequencing (WGS) adalah suatu upaya untuk melihat urutan kode genetika. Pada umumnya terdapat 4 tahapan dalam proses WGS khususnya untuk mengidentifikasi virus Covid-19.

Pertama, yaitu DNA sharing atau pemotongan DNA. Yakni dilakukan pemotongan molekuler pada DNA virus menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi agar dapat dibaca oleh mesin pengurutan DNA.

Kedua, DNA barcoding atau pengkodean DNA. Yaitu pemberian kode atau tag, atau bisa disebut juga memberi barcode . Untuk mempermudah mengidentifikasi DNA virus.

Ketiga, whole genome sequencing yaitu proses memasukkan DNA dari beberapa samp virus ke dalam alat yang disebut whole genome squencer . Alat ini akan menggunakan barcode untuk melacak asal kepemilikan DNA tersebut.

Keempat, analisis data yaitu proses untuk membandingkan urutan DNA virus dan mengidentifikasi perbedaannya. Karena banyaknya perbedaan ini dapat memberi informasi bagaimana tingkat kedekatan strain virus dan kemungkinan memiliki kekuatan untuk menimbulkan gejala yang smaa pada manusia.

Whole genome sequencing pada prinsipnya untuk memahami distribusi dan pola penyebaran virus dan memberi informasi mengenai karakteristik dari masing-masing isolat di tiap daerah, yang tentunya bermanfaat untuk penanggulangan dan pencegahan,” jelas Wiku.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

 

Baca Juga: UPDATE Corona Indonesia, Sabtu (2/1): Bertambah 7.203 kasus, taati protokol kesehatan

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.

.bg-color-linkedin { background-color: #0072b1; } /*artikel selanjutnya popup */ .article__flex {position: fixed;bottom: 60px;z-index: 9;display: -ms-flexbox;display: flex; background: #fff;box-shadow: 0 0 6px rgba(0,0,0,.2);flex-wrap: nowrap; border-radius: 5px;overflow: hidden;height: 70px;} .article__box {flex-grow: 1;position: relative; width: calc(100% – 70px);padding: 15px 15px 0 10px;display: -ms-flexbox; display: flex;flex-wrap: wrap;align-items: center;align-content: center;} .article__img img.imej{width: 90px !important; height: 70px !important; object-fit: cover; } .article__subtitle {position: absolute;top: 10px;left: 10px;display: block; width: calc(100% – 80px);overflow: hidden;font-size: 10px;line-height: 1;color: #2a2a2a;} .article__title a.article__link {display: block; font-family: Roboto,sans-serif; line-height: 1.3; color: black; letter-spacing: 0px;} .article__title a:hover {color: #f38d21;} .article__title {display: block;font-size: 14px;font-weight: 700;color: #000; height: auto;max-height: 37px;overflow: hidden;} .showHide {display:none;} @media only screen and (min-width: 800px){ .article__flex{bottom: 99px; max-width: 607px; height: 85px;} .article__subtitle {font-size: 12px; } .article__title {display: block;font-size: 18px;max-height: none;} .article__img img.imej{width: 110px !important; height: 85px !important; margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;} } /*END OF- artikel selanjutnya popup */

<!–

–> <!–

Video Pilihan

–> <!–

–>
<!–

COVID-19

–> Source