Read Time:10 Minute, 45 Second

5 menit yang lalu

Paul Salopek

Sumber gambar, ohn Stanmeyer/National Geographic

Jurnalis perang pemenang dua kali penghargaan bergengsi Pulitzer Award dan National Geographic Fellow, Paul Salopek, tengah mendokumentasikan dunia dalam misi jurnalisme yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun terakhir, Out of Eden Walk.

Sejak Januari 2013, jurnalis berkebangsaan Amerika berusia 59 tahun ini telah berjalan kaki dari Afrika, menelusuri jejak kuno migrasi manusia, yang terjadi antara 50.000 hingga 80.000 tahun lalu.

Dalam misinya, ia melakukan pengembaraan sepanjang 38.000 km, menjelajahi 36 negara yang membentang dari Ethiopia ke Argentina, melintasi Asia barat, Jalur Sutra, India, China, Siberia dan pesisir barat Amerika Utara dan Selatan sebelum akhirnya perjalanannya berakhir di Tierra del Fuego di ujung Amerika Serikat.

Sejauh ini, ia telah menempuh jarak 12.000 km dan saat ini terjebak di Myanmar karena penutupan perbatasan yang ketat akibat pandemi.

Sebagai seorang ilmuwan otodidak, Salopek mengatakan bahwa proyeknya adalah tentang mendongeng, sebuah eksperiman dalam jurnalisme lambat (slow journalism) dan memberikan kesan yang dalam.

Melalui Out of Eden Walk, ia bermaksud mengumpulkan pengetahuan dengan cara yang lebih lambat, dengan kecepatan yang lebih manusiawi, menyisipkan karyanya dengan wawasan yang lebih kaya dan lebih dalam ke dalam lanskap dan kehidupan orang-orang yang ia temui.

Kami baru-baru ini bertemu dengan Salopek dan menanyakan kepadanya bagaimana Covid telah memengaruhi pengembaraannya, apa yang menginspirasinya untuk terus melakukan perjalanan dan apa yang ia inginkan ia wariskan dari petualangannya tersebut.

T: Kami mewawancarai Anda enam tahun lalu, dua tahun setelah perjalanan Anda dimulai, saat itu Anda berada di Turki timur. Apakah perjalanan Anda terasa lebih penting dan mendesak, mengingat beberapa tantangan baru-baru ini yang dihadapi planet ini?

Seperti semua orang, saya juga terdampak oleh pandemi. Perbatasan ditutup. Gerakan dibatasi. Saya telah menghentikan sementara perjalanan saya di utara Myanmar, menunggu semuanya dibuka kembali. Untungnya, di antara hal-hal yang diajarkan dalam perjalanan adalah kesabaran.

Paul Salopek

Sumber gambar, John Stanmeyer/National Geographic

Keterangan gambar,

Madain Salih merupakan bagunan peninggalan masa Nabataean kuno di Arab Saudi, yang merupakan kuil yang diukir di singkapan batu pasir sekitar 2.000 tahun yang lalu

Dalam cakrawala saya, tak banyak yang berubah. Para petani menanam padi. Truk-truk berbondong-bondong di sepanjang jalan di tengah hutan membawa kiriman bir berikutnya, serta membawa ikan atau kayu.

Saya beruntung. Myanmar memiliki angka morbiditas dan kematian yang sangat rendah. Alasannya tidak sepenuhnya diketahui dan bisa jadi rumit. Itu mungkin termasuk level kekebalan mereka karena manusia dan virus corona telah hidup berdampingan di lingkungan tropis ini selama ribuan tahun. Karenanya, seorang teman ahli genetika menyebutnya “sabuk trenggiling”.

Saya tak yakin Covid membuat pesan pengembaraan saya lebih mendesak. Itu mungkin membuatnya lebih relevan. Pandemi menyoroti saling ketergantungan kita. Kita tak akan sembuh sampai semua orang sembuh. Keselamatan kita bersifat komunal.

T: Bepergian dan mendongeng adalah hal yang wajar bagi Anda sebagai koresponden asing. Itukah yang menginspirasi Anda untuk melakukan pengembaraan ini, dan dapatkah Anda memberi tahu kami apa yang menginspirasi Anda untuk terus berkembara?

Proyek ini tentang mendongeng. Berjalan adalah hanyalah kendaraan antik untuk misi itu.

Penyair Yunani kuno. pendongeng Afrika Barat. pada murid Konfusius yang berkembara di China. Kebiasaan manusia menggabungkan pengembaraan dengan narasi, budaya belajar dan berbagi sudah sangat tua. Ini adalah tradisi yang ditemukan di banyak bagian dunia.

Saya adalah seorang koresponden asing konvensional, berpindah-pindah antara berita terbaru dengan pesawat atau mobil. Munculnya Revolusi Informasi hanya mempercepat proses itu. Kisah kita hari ini bergerak dengan kecepatan cahaya. Jadi, Out of Eden Walk adalah sedikit penolakan terhadap semua itu.

Ini bertujuan untuk mengumpulkan pengetahuan dengan cara yang lebih lambat, dengan kecepatan yang lebih manusiawi, dengan kecepatan yang dirancang untuk diproses oleh otak Zaman Batu yang masih kita bawa kemana-mana – dengan kecepatan 5 km/jam.

Dengan memperlambat proses peliputan saya, pekerjaan saya diharapkan dapat dipenuhi dengan wawasan yang lebih kaya dan lebih dalam tentang lanskap dan kehidupan orang-orang yang saya temui. Menghubungkan satu kisah ke kisah lain secara primal.

Ini mendorong Anda untuk berpikir sebelum menulis. Saya menyebutnya “jurnalisme lambat”, tapi itu hanyalah bentuk penemuan kita yang paling tua.

Apa yang membuat saya terus berjalan? Kisah-kisah yang saya temui. Mereka tak pernah berakhir dan tidak ada yang menyamainya. Masing-masing memunculkan pertanyaan baru.

Paul Salopek

Sumber gambar, Ryan Morris/National Geographic

Keterangan gambar,

Pengembaraan Out of Eden Walk yang dilakukan Paul Salopek dimulai di Afrika dan akan menempul lebih dari 38.000 km di 36 negara.

T: Apa yang membuat Anda memutuskan untuk menelusuri jalur kuno migrasi manusia?

Saya seorang ilmuwan otodidak. Saya mempelajari genetika, arkeologi, dan asal usul manusia. Saya selalu terpesona betapa eratnya hubungan populasi manusia secara global. Kita yang tinggal di luar Afrika pada dasarnya hanya berpencar dari benua induk, secara biologis.

Dan saya juga tertarik dengan betapa sangat sedikit yang kita ketahui tentang manusia pertaa di dunia. Sejauh ini, itu adalah kisah pencapaian 300.000 sejarah spesies kita – mengeksplorasi seluruh planet, sebagian besar dengan berjalan kaki. Perjalanan itulah yang menjadikan kita makhluk pemecah masalah seperti sekarang ini.

Kita semua entah bagaimana berkontribusi pada pencapaian itu, karena nenek moyang yang sama pasti telah berjalan di bagian dari jalan setapak itu, mengikuti rute penyebaran kuno yang berfungsi sebagai narasi pemersatu melalui jalur migrasi.

Ini adalah pengingat bahwa [penyair Inggris] Donne benar. Nasib kita saling terkait, mungkin sekarang lebih dari sebelumnya. Anda bodoh jika yakin bahwa apapun yang terjadi di Amerika atau Myanmar tak menyentuh perasaan Anda.

T: Setelah apa yang terjadi, apakah gerakan Black Lives Matter berdampak pada perjalanan Anda dan pada apa yang Anda tunjukkan melalui perjalanan Anda?

Saya seorang pengembara yang sangat beruntung. Saya laki-laki, berkulit putih dan didukung institusi yang kuat seperti National Geographic Society. Saya menambahkan bahwa saya membawa paspor yang layak, tetapi itu tak berlaku lagi, bukan?

Bagaimanapun saya berjalan di Bumi karena pilihan, bukan karena kebutuhan, seperti yang dilakukan sekitar satu miliar migran yang melakukan migrasi didunia saat ini – pengungsi perang, migrasi karena tuntutan ekonomi, dan mereka yang melarikan diri dari kehancuran akibat krisis iklim.

Saya mencoba yang terbaik untuk menyampaikan posisi ini dalam kisah saya. Sebenarnya sulit untuk melakukannya. Berjalan adalah pengalaman yang membuat Anda rendah hati. Tapi itu juga kekuatan utamanya. Pikirkan tentang itu.

Ketika Anda bergerak terus menerus, tahun demi tahun, dengan berjalan kaki melintasi negeri yang asing, sulit untuk mengesampingkan orang lain yang tak Anda kenal yang Anda temui, karena sering kali, hidup Anda bergantung pada mereka. Saya sudah meninggal jika tanpa belas kasihan orang asing.

Anda segera mengetahui bahwa orang-orang di mana pun memperhatikan 95% hal yang sama. Kita membicarakan hal yang sama. Cinta dan ketidakhadirannya. Nasib anak-anak kita. Kebencian terhadap atasan kita. Dan, iklim yang semakin tidak menyenangkan.

Paul Salopek

Sumber gambar, John Stanmeyer/National Geographic

Keterangan gambar,

Di Uzbekistan yang terpencil, Paul Salopek dan pemandunya melintasi hutan belantara Jalur Sutra yang tidak pernah dikunjungi pejalan kaki selama beberapa generasi

Apa yang terjadi dengan Black Lives Matter, menurut saya, melibatkan banyak perhitungan yang sudah lama tertunda tentang sistem kasta di Amerika dan ketidakadilan yang telah langgeng. Tapi ini juga merupakan kesempatan untuk mendengar. Maksud saya benar-benar mendengarkan. Itu adalah kekuatan yang langka.

Inilah yang saya katakan kepada siswa yang mengikuti perjalanan saya. Saya mendengarkan sebanyak saya berjalan melintasi dunia. Itu yang dilakukan semua pendongeng yang baik, tentu saja. Tetapi menurut saya itu adalah bentuk doa. Mendengarkan adalah aksi reklamasi manusia.

T: Anda menghabiskan waktu berbulan-bulan di India berkelana di sepanjang sungai-sungai besar di negara itu, seperti Gangga dan Brahmaputra. Apa yang Anda pelajari tentang negara tersebut dan rakyatnya?

Rute di India berlangsung selama 16 bulan dan memiliki jarak hampir 4.000 km melintasa bagian utara negeri itu. Apa yang Anda pelajari dengan berjalan kaki adalah bahwa setiap desa adalah kosmos, dengan kepribadian dan persoalannya sendiri-sendiri.

Fokus dalam liputan saya adalah air. India adalah sebuah sungai. Setiap sungai adalah dewa. Namun negara itu sedang mengalami bencana yang sunyi – kekurangan air, polusi yang dampaknya mengejutkan bagi 600 juta orang.

Itu adalah kesengsaraan manusia dan masalahnya sangat besar sehingga hanya sedikit yang dapat melihatnya secara langsung. Pemerintah tentu saja tidak melihatnya; [mereka] masih berpegang pada rencana Inggris pada abad ke-19 untuk mengubah rute seluruh sungai. Semoga beruntung dengan itu.

Seperti yang dikatakan rekan perjalanan saya, fotografer lingkungan yang luar biasa, Arati Kumar-Rao, tempat itu disangkal besar-besaran.

Pada tingkat manusia, India adalah tempat yang sangat menyenangkan untuk berjalan-jalan. Itu karena jutaan orang masih melakukannya. Para petani meninggalkan tempat air minum dari tanah liat di pinggir jalan agar para pejalan kaki bisa meminumnya, dan beberapa masyarakat masih memiliki dharamshala, atau wisma bagi peziarah. Bisingnya lalu lintas di India masih menggema di telinga saya.

T: Mendokumentasikan perjalanan Anda adalah bagian penting dari proses tersebut. Bagaimana Anda merekam dan membagikan apa yang Anda lihat, dan apa yang Anda ingin wariskan dari perjalanan Anda?

Editor saya menghitung bahwa produktivitas saat ini, perjalanan berada di jalur yang tepat untuk menghasilkan jutaan kata teks. Rekan perjalanan saya dan saya juga melakukan lokakarya selama perjalanan dalam “jurnalisme lambat”.

Paul Salopek

Sumber gambar, John Stanmeyer/National Geographic

Keterangan gambar,

Paul Salopek berjalan hampir 4.000 km melintasi India utara, melaporkan bencana air yang sunyi di negara itu.

Saya pikir, misi pendidikan akan menjadi warisan perjalanan yang sebenarnya. Tidak ada yang membuat saya lebih bahagia daripada meninggalkan masyarakat pendongeng multikultur yang bijaksana. Dengan cara itu, perjalanan berlanjut melalui orang lain lama setelah saya gantung sepatu di Tierra del Fuego.

T: Dunia adalah tempat yang menakjubkan. Bisa ceritakan tentang beberapa hal yang membuat Anda jatuh cinta dengan planet kita saat Anda berkelana?

Saya pikir berjalan mengajarkan tentang dunia dengan cara yang ideal. Cakrawala bisa diraih. Anda hidup dalam keterbatasan tubuh Anda – menandai tiap kemajuan dnegan panjang langkah Anda. Itu membuat Anda membumi, rendah hati. Seperti banyak hal baik dalam hidup kita – cinta, persahabatan, makanan, percakapan – kelambatan itu penting.

Ada semacam ritual harian. Anda bangun, minum secangkir teh, mengemasi ransel dan melanjutkan perjalanan. Saat matahari terbenam Anda melakukan proses ini secara terbalik, menikmatinya.

Berkelana mengingatkan Anda kembali dengan upadara kedatangan dan keberangkatan yang terlupakan. Ini adalah ritual harian yang telah dilenyapkan oleh transportasi bermotor, kecepatan, jadwal. Dan Anda bangun di setiap pagi tanpa tahu di mana Anda akan tidur selanjutnya, namun dengan arah yang stabil dalam hidup timur: ke timur.

Anda mengalami kontinuitas dalam hidup yang menurut saya pasti merupakan keadaan awal kita. Dunia berlalu, jam biologis anda berapa di antara kewaspadaan dan lamunan.

T: Tantangan apa yang Anda hadapi dalam merencanakan rute Anda? Dan kemana tujuan Anda selanjutnya?

Sekitar 60.000 hingga 70.000 tahun yang lalu, ketika manusia modern pertama mulai keluar dari Afrika, rintangan utamanya adalah gurun atau lautan atau lapisen es. Bagi saya, rintangan terbesar saat ini adalah buatan – batasan politik. Saya tak bisa mendapatkan bisa untuk melakukan perjalanan di Iran atau Turkmenistan, dua negara yang merupakan pusat penting dari migrasi dan budaya manusia. Saya berjalan mengitari dua negara itu.

Sekarang saya menunggu perbatasan yang ditutup karena pandemi dibuka kembali, mudah-mudahan dalam satu atau dua bulan. Lalu saya berjalan kaki dari Myanmar ke China. Berjalan melintasi China, negara yang keanekaragaman lingkungan dan budayanya sangat luar biasa seringkali diabaikan di media, akan menjadi salah satu sorotan dalam perjalanan global.

Saya sangat menantikannya dengan cara para cendekiawan Konfusianisme, yang mengejar kehidupan yang layak melalui penggunaan dé 德 (potensi, keahlian) saat terlibat dalam aktivitas yang dinamai yóu 遊 (mengembara).

Perjalanan ini akan menempuh lebih dari 6.000 km dan memakan waktu sekitar satu setengah tahun.

Paul Salopek

Sumber gambar, John Stanmeyer/National Geographic

Keterangan gambar,

Sebagai bagian dari perjalanannya, Paul Salopek menulis berita yang dikirim mingguan atau dua mingguan dan mengadakan lokakarya dalam jurnalisme lambat

T: Tujuan perjalanan Anda adalah untuk terhubung dengan orang-orang setempat tetapi perjalanan Anda juga terdengar seolah-olah cukup terisolasi. Dapatkah Anda memberi tahu kami tentang orang-orang yang telah membantu dan menemani Anda dalam perjalanan Anda?

Sejak awal perjalanan di Ethiopia, saya telah berkelana dengan mitra pejalan kaki lokal. Pada awalnya, ini terutama untuk alasan logistik – untuk bantuan navigasi, dan menerjemahkan wawancara. Tetapi saya segera menemukan bahwa berjalan dengan orang-orang melalui tanah air mereka sendiri menjadi pilar fundamental dari proyek itu sendiri.

Tanpa mereka, saya akan belajar lebih sedikit, berbagi lebih sedikit dengan pembaca, dan secara umum memiliki pengalaman perjalanan yang berkurang.

Hal ini terutama berlaku tentang berjalan dengan perempuan. Mereka membantu membuka pintu ke kisah tentang separuh spesies manusia dan menyumbangkan perspektif penting mereka sendiri yang sering tidak dapat saya akses, terutama dalam masyarakat pedesaan yang konservatif.

Mitra perjalanan saya – dan mereka termasuk penggembala unta Ethiopia, ahli paleontologi Amerika, pensiunan perwira militer Saudi, fotografer lanskap Turki, siswa sekolah menengah Georgia dan penulis India yang luar biasa, di antara banyak lainnya – seperti keluarga.

Kami sekarang menggabungkan kisah perjalanan mereka ke dalam jalinan narasi. Dengan cara ini, perjalanan membangun komunitas global perawi, seniman, pemikir yang akan menjadi warisan nyata dari tamasya orang gila ini.

T: Apa hal pertama yang akan Anda lakukan setelah menyelesaikan perjalanan Anda?

Berjalan mengajarkan untuk menghilangkan ekspektasi. Saya belum punya ide.

BBC Travel merayakan 50 Reasons to Love the World pada tahun 2021, melalui inspirasi dari suara-suara terkenal serta pahlawan tanpa tanda jasa di komunitas lokal di seluruh dunia.

Source