Read Time:3 Minute, 41 Second

sejam yang lalu

A man removes debris from shelling in the Nagorno-Karabakh capital, Stepanakert

Keterangan gambar,

Seorang pria membersihkan puing-puing di ibu kota Nagorno-Karabakh, Stepanakert

Armenia dan Azerbaijan menuding satu sama lain telah melanggar gencatan senjata atas nama kemanusiaan di wilayah sengketa Nargorno Karabakh.

Keduanya sepakat melakukan gencatan senjata pada Sabtu (17/10).

Namun Juru bicara Kementerian Pertahanan Armenia menyebut Azerbaijan melanggar kesepakatan gencatan senjata empat menit setelah kesepakatan itu diberlakukan, dengan menembakkan artileri dan roket.

Azerbaijan kemudian mengatakan Armenia telah melanggar gencatan senjata hanya dua menit setelah kesepakatan diberlakukan.

Keduanya sepakat melakukan gencatan senjata yang dimediasi oleh Rusia pada Sabtu. Namun, konflik terus terjadi.

Pertempuran antara kedua kubu kembali berkecamuk di wilayah sengketa Nagorno Karabakh yang secara internasional diakui sebagai bagian dari Azerbaijan, namun didominasi oleh etnis Armenian. Ratusan orang telah meninggal dunia.

Konflik kali ini menjadi kekerasan terburuk di kawasan itu sejak perang selama enam tahun memperebutkan teritori itu diakhiri dengan gencatan senjata pada 1994.

Pada awal Sabtu, kedua negara terus saling tuduh atas pelanggaran gencatan senjata yang disepakati akhir pekan lalu dan kemungkinan besar keraguan akan tetap mengikuti pernyataan terbaru.

Damage in the Azerbaijani city of Ganja

Keterangan gambar,

Kerusakan yang terjadi di kota Ganja di Azerbaijan.

Apa kesepakatan terbaru?

Kedua negara mengonfirmasi kesepakatan gencatan senjata atas nama kemanusiaan, meskipun beberapa detail diberlakukan.

Kementerian Luar Negeri Azerbaijan mengatakan keputusan itu berdasar pada pernyataan Presiden AS, Prancis, dan Rusia yang mewakili OSCE Minsk Group – sebuah badan yang dibentuk pada 1992 dan diketuai oleh ketiga negera untuk memediasi konflik Nagorno-Karabakh.

Rescue workers at the scene of damage in the Azerbaijani city of Ganja

Keterangan gambar,

Tim penyelemat di Ganja, kota di Azerbaijan yang hancur karena konflik.

Anna Naghdalyan, juru bicara Kementerian Luar Negeri Armenia juga menyatakan pernyataan yang sama dalam sebuah cuitan di Twitter, menambahkan bahwa negara itu menyambut baik upaya “gencatan senjata dan de-eskalasi tensi” di zona konflik.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, yang merundingkan kesepakatan akhir pekan lalu, berbicara dengan mitranya di kedua negara pada Sabtu dan mengatakan mereka perlu “mematuhi dengan ketat” kesepakatan sebelumnya.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron menyetujuinya, mengatakan bahwa negaranya akan “memperhatikan” gencatan senjata.

Apa yang terbaru di zona konflik?

“Musuh menembakkan peluru artileri ke arah utara dari 00:04 sampai 02:45 dan menembakkan roket ke arah selatan dari 02:20 sampai 02:45,” ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Armenia, Shushan Stepanyan di Twitter.

Dia kemudian mengatakan Azerbaijan melancarkan serangan di selatan Nagorno-Karabakh pada Mingggu pagi.

“Ada korban jiwa dan korban luka di kedua kubu.”

Berbicara dengan BBC, Menteri Luar Negeri Armenia, Zohrab Mnatsakaryan mengatakan negaranya tidak melakukan pelanggaran gencatan senjata, dan menuding Azerbaijan tidak berminat melakukan de-eskalasi serangannya.

Rescuers and civilians amid debris in Ganja

Keterangan gambar,

Setidaknya 13 orang tewas di Ganja, menurut otoritas Azerbaijan.

“”Ini merupakan kebijakan Azerbaijan… untuk saling menyalahkan dan mendapatkan izin untuk melanjutkan serangan,” kata Mnatsakanyan.

Sementara itu, Hikmat Hajiyev, Kepala Kebijakan Luar Negeri Azerbaijan, menyalahkan Armenia karena kembali memulai petempuran.

“[Armenia] menyalahgunakan dan salah menafsirkan gencatan senjata saat ini untuk memperkuat posisi mereka dan merebut wilayah baru Azerbaijan,” kata Hajiyev kepada BBC.

“Kemarin mereka menyergap sekelompok angkatan bersenjata Azerbaijan dan mencoba membunuh mereka

“Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh kubu Armenia,” dia menambahkan.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Keterangan video,

A ceasefire agreement has failed to stop the killing in Nagorno-Karabakh

Azerbaijan menuding Armenia atas serangan misil yang terjadi pada Sabtu pagi yang telah menewaskan 13 warga sipil dan melukai 45 orang lain di Ganja, sebuah kota yang jauh dari area konflik.

Pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri Azerbaijan menuding Armenia atas “penargetan warga sipil yang disengaja dan tidak pandang bulu”.

Pejabat Armenia membantah telah melakukan serangan, dan menuding Azerbaijan telah menyerang area warga sipil mereka.

Stepanyan mengunggah sebuah video di Facebook, yang dia sebut memperlihatkan kehancuran di wilayah Nagorno-Karabakh.

Dia juga menuduh Angkatan Bersenjata Azerbaijan menyerang warga sipil dengan rudal di berbagai daerah termasuk ibu kota Nagorno-Karabakh, Stepanakert.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Keterangan video,

Under fire in Nagorno-Karabakh

1px transparent line

Nagorno-Karabakh – kunci fakta

  • Wilayah pegunungan dengan luas 4.400 km2
  • Dihuni oleh warga Kristen dari Armenian dan warga Muslim dari Turki
  • Pada era Soviet, menjadi wilayah otonomi di dalam Republik Azerbaijan
  • Secara internasional diakui sebagai bagian dari Azerbaijan, namun didominasi oleh etnis Armenia
  • Diperkirakan sekitar satu juta orang mengungsi akibat konflik yang terjadi pada 1988-1994, dan sekitar 30.000 tewas
  • Pasukan separatis merebut beberapa wilayah tambahan di sekitar kantong di Azerbaijan pada perang tahun 1990-an
  • Kebuntuan sebagian besar terjadi sejak gencatan senjata tahun 1994
  • Turki secara terbuka mendukung Azerbaijan
  • Rusia memiliki pangkalan militer di Armenia

Source